Tuesday, 28 August 2012

HUKUM KENCING BERDIRI.

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang kencing sambil berdiri jika hal itu tidak mengenai dirinya ataupun pakaiannya?

Jawapan:

BOLEH kencing sambil berdiri apabila hal itu memang diperlukan, dengan syarat, tempatnya tertutup sehingga tidak ada orang lain yang melihat auratnya serta tidak terkena percikan air kencingnya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Hudzaifah r.a., baahwa Nabi SAW menuju hujung tempat pembuangan sampah suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri. [Disepakati kesahihannya. HR. Al-Bukhari dalam al-Wudhu' (2224); Muslim dalam ath-Thaharah (273)].

Namun demikian, lebih baik dilakukan dengan duduk/jongkok/mencangkung, kerana seperti itulah yang selalu dilakukan oleh Nabi SAW , dengan tetap menutup aurat dan hati-hati agar tidak terkena percikan air kencing.

Rujukan:
Majalah al-Buhuts, nomor 38, hal. 132, Syaikh Ibnu Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.


Thursday, 7 June 2012

Erti IKHLAS dalam IBADAH


Apa makna ikhlas? Dan apabila seorang hamba menginginkan melalui ibadahnya sesuatu yang lain, apa hukumnya?   

Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keredhaan-Nya.

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu diperincikan lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

Pertama
Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya dan ingin mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

Di dalam hadis yang sahih dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Nabi SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman :

“Aku adalah Zat Yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya.” [HR : Muslim, kitab Az-Zuhd, no.2985]

Kedua
Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti pangkat, kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah. Maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman :

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Surah Hud : 15-16]

Perbezaan antara klasifikasi kedua dan pertama ialah, dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi kedua, dia tidak bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadap dirinya.

Ketiga
Dia bermaksud  untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya (disamping niat beribadah kepada Allah) untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya, atau dia berhaji (disamping niat beibadah kepada Allah) untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jemaah haji, maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, bererti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jemaah haji.

“Tidak ada dosa bagimu mencari kurnia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb-mu.” [Surah Al-Baqarah : 198]

Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Malah mungkin dia berdosa kerana hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firman-Nya :

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembahagian) zakat, jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” [ Surah At-Taubah : 58]

Di dalam Sunan Abu Daud dari Abu Hurairah r.a disebutkan bahawa ada seorang lelaki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila) seorang lelaki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?’ Rasulullah SAW bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi SAW menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala.” [HR : Abu Daud, Sunan Abu Daud kitab Al-Jihad (2516), Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitinya (majhul).

Demikian pula hadis yang terdapat di dalam kitab Ash-Sahihain dari Umar bin Al-Khatthab r.a. bahwasanya Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa yang hijrahnya kerana ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut.” [HR : Bukhari & Muslim]

Jika niatnya 50:50, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non-ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk perkara seperti ini adalah sama juga, tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal kerana Allah dan kerana selain-Nya juga.

Perbezaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahawa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara sendiri. Jadi, keinginannya tercapai malalui perbuatannya tersebut secara sendirinya seakan-akan yang dia inginkan adalah hasil dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.

Yang jelas perkara yang merupakan ucapan (niat) hati amatlah serius dan begitu penting sekali. Indikasinya, boleh jadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga As-Siddiqin, dan sebaliknya boleh pula mengembalikannya ke darjat yang paling bawah sekali.

Sama-samalah kita memohon kepada Allah agar dianugerahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal. Waallahua’alam.

Rujukan : Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100.     

Penulis
AB & AIAQ

Friday, 1 June 2012

GAY, LESBIAN & HOMOSEKSUAL


DOSA-DOSA HOMOSEKSUAL

Homoseksual  adalah seburuk-buruk perbuatan keji yang tidak layak dilakukan oleh manusia normal. Allah telah menciptakan manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, dan menjadikan perempuan sebagai tempat lelaki menyalurkan nafsu biloginya, dan demikian sebaliknya. Sedangkan perilaku homoseksual (semoga Allah melindungi kita darinya) keluar dari makna tersebut dan merupakan bentuk perlawanan terhadap tabiat yang telah Allah ciptakan itu. Perilaku homoseksual merupakan kerosakan yang amat parah. Padanya terdapat unsur-unsur kekejian dan dosa perzinaan, bahkan lebih parah dan keji daripada perzinaan.

Aib wanita yang berzina tidaklah seperti aib lelaki yang melakukan homoseksual. Kebencian dan rasa jijik kita terhadap orang yang berbuat zina tidak lebih berat daripada kebencian dan rasa jijik kita terhadap orang yang melakukan homoseksual. Sebabnya adalah meskipun zina menyalahi syariat, akan tetapi zina tidak menyalahi tabiat yang telah Allah ciptakan (di antara laki-laki dan perempuan). Sedangkan homoseksual menyalahi syariat dan tabiat sekaligus.

Para alim ulama telah sepakat tentang keharaman homoseksual. Allah SWT dan Rasulullah SAW telah mencela dan menghina para pelakunya.

Firman Allah SWT, maksudnya : 

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun  (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas" [Al-A’raf : 80-81]

Dalam kisah kaum Nabi Luth ini tampak jelas penyimpangan mereka dari fitrah. Sampai-sampai ketika menjawab perkataan mereka, Nabi Luth mengatakan bahawa perbuatan mereka belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya.

BESARNYA DOSA HOMOSEKSUAL SERTA KEKEJIAN DAN KEJELEKANNYA

Kekejian dan kejelekan perilaku homoseksual telah mencapai puncak keburukan, sampai-sampai haiwan pun menolaknya. Kita tidak mendapatkan seekor haiwan jantan pun yang mengahwini haiwan jantan lain. Akan tetapi keanehan itu terdapat pada manusia yang telah rosak akalnya dan menggunakan akal tersebut untuk berbuat keburukan.

Dalam Al-Qur’an Allah menyebut zina dengan kata faahisyah (tanpa alif lam), sedangkan homoseksual dengan al-faahisyah (dengan alif lam), (jka ditinjau dari bahsa Arab) tentunya   perbezaan dua kta tersebut sangat besar. Kata faahisyah tanpa alif dan lam dalam bentuk nakirah yang dipakai untuk makna perzinaan menunjukkan bahwa zina merupakan salah satu perbuatan keji dari sekian banyak perbuatan keji. Akan tetapi, untuk perbuatan homoseksual dipakai kata al-faahisyah dengan alif dan lam yang menunjukkan bahwa perbuatan itu mencakup kekejian seluruh perbuatan keji. Maka dari itu Allah SWT berfirman. :

"Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian." [Al-A’raf : 80]

Maknanya, kalian telah mengerjakan perbuatan yang keburukan dan kekejiannya telah dikukuhkan oleh semua manusia.

Sementara itu, dalam masalah zina, Allah SWT berfirman :

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu faahisyah (perbuatan yang keji) dan suatu jalan yang buruk." [Al-Isra : 32]

Ayat ini menerangkan bahwa zina adalah salah satu perbuatan keji, sedangkan ayat sebelumnya menerangkan bahwa perbuatan homoseksual mencakup kekejian.

Zina dilakukan oleh lelaki dan perempuan kerana secara fitrah di antara lelaki dan perempuan terdapat kecenderungan antara satu sama lain, yang oleh Islam kecenderungan itu dibimbing dan diberi batasan-batasan syariat serta cara-cara penyaluran yang sebenarnya. Oleh kerana itu, Islam menghalalkan nikah dan mengharamkan zina serta memeranginya, Allah SWT berfirman:

"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." [Al-Mukminun : 5-7]

Jadi,  hubungan apapun antara lelaki dan perempuan di luar batasan syariat dinamakan zina. Maka dari itu hubungan antara lelaki dan perempuan merupakan panggilan fitrah keduanya, adapun penyalurannya mungkin dengan cara yang halal, mungkin pula dengan yang haram.

Akan tetapi, jika hal itu dilakukan antara lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan, maka sama sekali tidak ada hubungannya dengna fitrah. Islam tidak menghalalkannya sama sekali kerana pada naluri dan fitrah manusia tidak terdapat kecenderungan seks lelaki kepada lelaki atau perempuan kepada perempuan. Sehingga jika hal itu terjadi, bererti telah keluar dari batas-batas fitrah dan tabiat manusia, yang selanjutnya melanggar hukum-hukum Allah. Firman Allah yang bermaksud :

"Yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian." [Al-A’raf : 80]

Mujtahid berkata : “Orang yang melakukan perbuatan homoseksual meskipun dia mandi dengan setiap titisan air dari langit dan bumi masih tetap najis”.

Fudhail Ibnu Iyadh berkata : “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap titisan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci”.

Ertinya, air tersebut tidak dapat menghilangkan dosa homoseksual yang sangat besar yang menjauhkan antara dia dengan Tuhannya. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya dosa perbuatan tersebut.

Amr bin Dinar berkata menafsirkan ayat diatas : “Tidaklah sesama lelaki saling meniduri melainkan termasuk kaum Nabi Luth”.

Al-Walid bin Abdul Malik berkata : “Seandainya Allah SWT tidak menceritakan kepada kita berita tentang kaum Nabi luth, maka aku tidak pernah berfikir kalau ada lelaki yang menggauli lelaki”.

AZAB DAN SIKSA KAUM NABI LUTH

Disebutkan bahwa Allah SWT menghujani mereka dengan batu. Tidak tersisa seorangpun melainkan dia dihujani batu tersebut. Sampai-sampai disebutkan bahawa salah seorang dari pedagang di Makkah juga terkena hujan batu sekeluarnya dari kota itu. Kerasnya azab tersebut menunjukkan bahwa homoseksual merupakan perbuatan yang paling keji sebagaimana yang disebutkan dalam dalil.

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. , dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda :

"Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth."          [HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 (no. 7337)]

Waallahua'lam...

- Abu Iqbal Al-Qaireen.

Wednesday, 16 May 2012

BUAT KAU, SI TEMAN SEJATI...

BUAT KAU, SI TEMAN SEJATI...

Lihatlah senyuman, lihat juga kerut di dahiku,
Lihatlah janggut tebal, lihat juga uban di kepalaku,
Perhatikan kebaikan, contohi selagi kau mampu,
Perhatikan kekurangan, betulkan selagi ku mampu,

Tangis melirih sendu, 
Iringi tubuh longlai sayu,
Waktu tak menunggu,
Pikul amanah di bahu.

Kepala terasa berat,
Nafas tersekat-sekat,
Mengalir darah pekat,
Tanda ajal semakin dekat.

Tuhanku, aku rindukan-Mu,
Rindu kian membelenggu,
Berbaring diribaan-Mu,
Harap rahmat kepadaku.

Temanku, jangan tangisi pemergianku,
Iringi perjalananku dengan doamu,
Lihatlah rumahku di syurga itu,
Setia menanti kehadiran tetamu.

Temanku, jika kau sahabat sejati,
Tak terkenang kekuranganku lagi,
Bila alam buana mati,
Kita pasti kan bertemu lagi...



-Abu Iqbal Al-Qaireen

Sunday, 6 May 2012

Istilah Dalam Ilmu Hadis


Dalam ilmu hadith, ada beberapa istilah yang dipakai oleh ulama hadith yang tidak akan kita faham kecuali kita melihat kepada huraian mereka.

Sebagai contoh istilah “hadith diriwayatkan oleh as Sab`ah”, apakah maksud istilah ini? As Sab`ah ertinya tujuh. Jadi, bila disebut hadith ini diriwayatkan oleh as-Sab`ah, maknanya hadith ini diriwayatkan oleh tujuh orang. Tujuh orang di sini merujuk kepada tujuh orang ulama hadith. Jadi timbul persoalan, siapakah tujuh orang itu? Maka di sinilah perlunya kita mengetahui istilah yang diguna-pakai oleh ulama hadith.

Istilah yang akan cuba kita fahami

Di antara istilah yang akan kerap kali dijumpai ialah seperti berikut:
Hadith diriwayatkan oleh as sab`ah, atau hadith ini diriwayatkan oleh as sittah, atau hadith ini diriwayatkan oleh al khamsah, atau hadith ini diriwayatkan oleh al arba`ah, atau hadith ini diriwayatkan oleh ats tsalatsah. Inilah di antara istilah-istilah yang akan kita jumpa apabila kita mula mempelajari ilmu hadith. Maka di sini akan diterangkan apakah maksud istilah-istilah ini semua dengan satu persatu.


Istilah tujuh orang (as sab`ah)
Apabila disebut hadith ini diriwayatkan oleh as sab`ah (tujuh orang), maka maksudnya ialah hadith ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmizi, Imam an Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. Inilah maksudnya apabila disebut hadith riwayat as sab`ah (tujuh orang), dan susunan nama-nama imam hadith ini disusun mengikut susunan para ulama hadith.


Istilah enam orang (as sittah)
Apabila disebut hadith ini diriwayatkan oleh as sittah (enam orang), maka maksudnya ialah hadith ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmizi, Imam an Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. Inilah maksudnya apabila disebut hadith riwayat as sittah (enam orang).


Istilah lima orang (al khamsah)
Apabila disebut hadith ini diriwayatkan oleh al khamsah (lima orang), maka maksudnya ialah hadith ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal, Imam Abu Daud, Imam Tirmizi, Imam an Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. Inilah maksudnya apabila disebut hadith riwayat al khamsah (lima orang).


Istilah empat orang (al arba`ah)        
Apabila disebut hadith ini diriwayatkan oleh al arba`ah (empat orang), maka maksudnya ialah hadith ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Tirmizi, Imam an Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. Inilah maksudnya apabila disebut hadith riwayat al arba`ah (empat orang). 


Istilah tiga orang (ats tsalatsah)
Apabila disebut hadith ini diriwayatkan oleh ats tsalatsah (tiga orang), maka maksudnya ialah hadith ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Tirmizi dan Imam an Nasa`i. Inilah maksudnya apabila disebut hadith riwayat ats tsalatsah (tiga orang).       


Istilah hadith riwayat Bukhari dan Muslim – maka maksudnya ialah hadith ini disebut dalam sahih Bukhari dan sahih Muslim dengan matannya yang sama, namun para perawi lain-lain.


Istilah muttafaqun alaih – maksudnya kedua-dua Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadith ini dengan matan dan para perawinya yang sama.  

Wednesday, 2 May 2012

Alasan Mereka yang Enggan Bertaubat


Pertanyaan:

Ketika kita mengajak pelaku maksiat agar bertaubat dan kembali kepada Allah tapi ia menjawab, "Sesungguhnya Allah belum menetapkan hidayah untukku" dan yang kedua berucap, "Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya." Bagaimana kita harus menjawab?

Jawapan:

Adapun yang pertama mengucapkan, "Allah belum menentukan hidayah untukku." Secara sederhana kita katakan, "Apakah kamu melihat perkara ghaib ataukah kamu telah membuat perjanjian di sisi Allah?" Jika ia menjawab, "Ya," maka kita katakan, "Kalau begitu kamu telah kafir, kerana kamu mendakwa mengetahui perkara ghaib." Jika ia mengatakan, "Tidak," maka kami katakan, "Kamu kalah. Jika kamu tidak mengetahui bahwa Allah belum memberikan hidayah maka carilah hidayah itu. Allah tidak menghalangimu dari hidayah, bahkan menyerumu ke sana dan menginginkan kamu mendapatkan hidayah, memperingatkan kamu supaya waspada terhadap kesesatan dan melarangmu darinya. Allah SWT tidak berkehendak membiarkan hamba-hamba-Nya pada kesesatan selamanya. Dia berfirman,

"Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan solihin) dan (hendak) menerima taubatmu." (An-Nisa': 26).

Oleh kerananya, bertaubatlah kepada Allah, dan Allah SWT sangat bergembira dengan taubatmu daripada seseorang yang kehilangan kenderaannya yang memuat makanan dan minumannya. Ia putus asa terhadapnya dan tidur di bawah pohon untuk menunggu kamatian. Ketika bangun, ternyata tali kekang untanya terikat pada pohon, lalu ia mengambil tali unta itu dan berkata, "Ya Allah, Engkau hambaKu dan aku Tuhanmu -ia salah ucap kerana sangat bergembira." (HR. Al-Bukhari dalam ad-Da'awat, no. 6309; Muslim dalam at-Taubah, no. 2747).

Sebenarnya, ia hendak berucap, "Ya Allah, Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu."

Adapun yang kedua yang mengatakan bahwa Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Jika Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan ini adalah pernyataan kamu, maka carilah hidayah itu sehingga kamu termasuk golongan yang dikehendaki untuk diberi hidayah oleh Allah. Sebenarnya, jawapan dari pelaku maksiat ini adalah untuk menolak hujjah dalam hubungannya dengan kami. Namun, itu tidak bermanfaat baginya di sisi Allah, karena Allah SWT berfirman,

"Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.' Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta." (Al-An'am: 148).

Rujukan:
Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin, jilid 1 hal. 54.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Tuesday, 1 May 2012

Apakah itu Taubat?


Pertanyaan: 
Apakah itu taubat?

Jawapan:

Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya.
Taubat itu disukai oleh Allah SWT.
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (Al-Baqarah: 222).

Taubat itu wajib atas setiap mukmin,

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya." (At-Tahrim: 8).

Taubat itu salah satu faktor keberuntungan,

"Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31).

Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak,

"Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53).

Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi SAW bersabda:
"Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya." (HR. Muslim dalam at-Taubah, no. 2759).

Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah berfirman,

"Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membu-nuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Furqan: 68-70).

Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat:

Pertama, Ikhlas karena Allah, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

Kedua, menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

Ketiga, meninggalkan kemaksiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram; dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka ia segera membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

Keempat, bertekad untuk tidak kembali kepada kemaksiatan tersebut di masa yang akan datang.

Kelima, taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat terbenamnya. Allah berfirman,

"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang'." (An-Nisa': 18).

Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya." (HR. Muslim dalam adz-Dzikr wa ad-Du'a', no. 2703)

Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Rujukan:
Risalah fi Shifati Shalatin Nabi'a, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.